|
Pernahkah kamu merasa nasi itu sangat manis, pernahkah merasa udara terasa begitu melegakan, kasur kita begitu empuk? Bagaimana kita bisa merasakannya? Apabila selama beberapa hari kita tidak makan, kita merasa nasi itu sangat manis. Udara terasa melegakan setelah kita menyelam di air selama 1 menit. Kasur terasa begitu empuk kalau selama ini kita tidur diatas beton yang keras. Sebaliknya, pernahkah kamu merasa WC di sekolah tidak bau? AC tua tetangga yang dinyalakan setiap malam tidak berbunyi? WC sekolah tidak bau lagi bila kamu bersembunyi disana selama 1 jam, kamu akan berkata "Bau apa?". AC tetangga pun tidak berbunyi setelah dipasang selama 2 bulan. Got the clue? Baik kita sadari maupun tidak, mental maupun fisik, tubuh kita beradaptasi terhadap lingkungan kita berada. Indera-indera tubuh kita menjadi terbiasa dengan apa yang biasa dirasakannya sehingga menjadi kurang peka. Kita bahkan tidak menyadari udara yang kita hirup sebenarnya berbau, air yang kita minum tidak berasa (kecuali sering ganti air minum), tekanan udara pada kulit kita tidak berasa, bahkan dalam keadaan sesunyi apapun telinga kita sebenarnya mendengarkan bunyi, bunyi yang dikeluarkan dari tubuh kita. Ini juga menjelaskan mengapa: 1. Ketika kita dipijat/dikerik, pertama-tama kita merasa enak tapi lama kelamaan dosis kita harus ditambah, bahkan kalau tidak dipijat/kerik tubuh kita merasa amat tersiksa. 2. Ketika kita disayangi/dicintai/diperhatikan oleh orang lain kita merasa bahagia, lama kelamaan kita tidak merasakan bahagia lagi, lama-kelamaan menganggap itu hal yang wajar dan patut kita dapatkan. Tapi tiba-tiba kalau kita tidak disayang/diperhatikan/dicintai lagi maka kita akan merasa amat tersiksa dan terluka. 3. Ketika kita pertama kali melakukan sesuatu mungkin kita merasa tidak biasa, tapi bila lingkungan mendukung, lama kelamaan hal itu dapat menjadi kebiasaan kita. Manusia mendapatkan kenikmatan setelah melewati penderitaan terlebih dahulu. Dan manusia merasakan penderitaan karena terikat akan kenikmatan. Meskipun (kadang) tidak separah obat-obatan, tapi efeknya hampir sama. Manusia hanya menghargai sesuatu yang dia miliki apabila dia baru mendapatkannya atau (hampir) kehilangan apa yang dia miliki itu. Kita seringkali terlena dengan apa yang kita miliki. Seringkali kita tidak menyadari dan menghargai apa yang kita miliki saat ini. Kapan terakhir kali kita menghargai: Kasih sayang dan pengorbanan orangtua kita? Cinta kasih yang kita dapatkan dari orang lain? Teman-teman dan sahabat yang kita miliki? Waktu yang kita miliki saat ini? Kesehatan tubuh dan pikiran kita? Enaknya masakan ibu kita? Pelajaran berguna yang kita dapatkan? Senangnya berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai? Kebahagiaan-kebahagiaan kita? Dalam dunia ini tidak ada sesuatu yang pasti terjadi/kekal, kecuali perubahan. Perubahan selalu terjadi, kadang perlahan, kadang tiba-tiba. Kadang memberikan kita kebahagiaan baru, kadang mengambil kebahagiaan kita. Tidak ada kebahagiaan diatas yang saya sebutkan diatas abadi. Kebahagiaan abadi didapatkan ketika menjadi seorang yang super, ketika kita tidak merasakan bahagia ataupun penderitaan lagi atas hal-hal duniawi, yang ada hanyalah ketenangan batin dan pikiran. Tapi karena kita belum mencapai keTuhanan dan masih melekat dengan kehidupan duniawi, maka.... Hargailah apa yang kita miliki saat ini... Bersyukurlah kita memilikinya saat ini... Sadarlah bahwa suatu saat nanti kita dapat saja kehilangan apa yang kita miliki... Persiapkanlah diri kita untuk menghadapi kehilangan itu, agar tidak ada penyesalan dalam diri kita karena sesuatu hal yang tidak kita lakukan atau katakan... Simpanlah kenangan akan hal-hal yang pernah kamu miliki dan jadikanlah itu pendorong semangat untuk maju terus. Karena masih ada kebahagiaan-kebahagiaan baru yang akan datang... Jangan pernah berpikir bahwa kebahagiaan takkan datang lagi, itu salah, kebahagiaan akan datang terus kepadamu selama kamu memilih untuk berbahagia...
|